Selat Malaka kembali menjadi sorotan dunia.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Indonesia dan Malaysia menggelar pertemuan militer tingkat tinggi di Kuala Lumpur dalam ajang DSA 2026, membahas penguatan pengawasan kapal asing di jalur laut paling strategis di dunia ini.
Tak lama setelah itu, TNI AL langsung menggelar latihan tempur bahaya udara menggunakan KRI Alamang-644 di Selat Malaka. Latihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simulasi menghadapi ancaman modern seperti rudal, drone, dan serangan udara.
Di sisi lain, Amerika Serikat justru meningkatkan aktivitas militernya di kawasan. Kapal USS Miguel Keith terdeteksi melintas di Selat Malaka, sementara operasi pencegatan terhadap tanker bermuatan minyak Iran terjadi di Samudra Hindia, tak jauh dari jalur menuju Indonesia.
Rute kapal yang dicegat bahkan disebut mengarah ke Kepulauan Riau sebelum melanjutkan perjalanan ke China.
Semua ini menimbulkan satu pertanyaan besar:
Apakah ini hanya kebetulan… atau bagian dari dinamika geopolitik yang lebih besar di kawasan Asia Tenggara?
Apakah Indonesia dan Malaysia sedang memperkuat “sea control” untuk menjaga stabilitas, atau justru bersiap menghadapi potensi konflik yang lebih luas?






