itemscope='itemscope' itemtype='https://schema.org/WebPage'>
  • Jelajahi

    Copyright © Benua Post
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Widget HTML (label jasa)

    Antrean Apotek RS IHC Pelabuhan Jakarta Dikeluhkan Pasien, Resep Tunggu Berjam-jam

    Redaksi
    09/04/26, April 09, 2026 WIB Last Updated 2026-04-09T16:00:05Z
    masukkan script iklan disini
    PASANG IKLAN +6287711124050


     

    JAKARTA, benuapost.id | Kamis 9 April 2026 – Kualitas pelayanan kesehatan di RS IHC Pelabuhan Jakarta, yang berlokasi di Kramat Jaya, Jakarta Utara, kembali menjadi sorotan tajam publik. Seorang pasien anak atas nama Dayyana Putri Kustiono beserta keluarganya menjadi korban dari manajemen pelayanan yang buruk dan sikap tidak profesional oknum petugas.

     

    Kronologi Kejadian

    Berdasarkan data dan bukti yang dimiliki, kejadian bermula ketika pasien datang melakukan kontrol kesehatan pada pukul 09.00 WIB. Proses pemeriksaan selesai pada pukul 12.00 WIB, di mana pasien langsung diberikan resep obat dan diinstruksikan untuk segera mengambilnya di bagian Farmasi dengan nomor antrean T187.

     


    Namun, kenyataan di lapangan sangat jauh dari harapan. Hingga sore hari, atau sudah lebih dari 4 jam berlalu sejak resep diterima, obat belum juga siap diserahkan. Pengambilan obat yang diwakilkan oleh orang tua pasien, Ety, harus terhenti karena sistem panggil antrean yang terlihat error atau macet. Angka di monitor hanya berhenti di nomor 155 dan tidak bergerak sama sekali, meskipun banyak pasien lain yang terlihat masih menunggu.

     

    Kesaksian Para Pasien: Sudah Tak Kuat Menahan Lelah

    Keputusasaan dan kelelahan juga dirasakan oleh puluhan pasien lain yang turut mengantre. Beberapa di antaranya bahkan sudah menunggu sejak pagi hari namun obat belum juga tersedia.

     

    Ety, orang tua pasien yang sedang mengantre obat, mengungkapkan kekesalannya.

     

    *"Sudah berjam-jam duduk di sini, kaki sudah pegal, perut juga lapar. Sistem macet tapi petugas diam saja. Kita ini mendampingi orang sakit, bukan besi yang kuat menahan capek terus-terusan. Masa harus nunggu sampai malam begini?" ujarnya dengan nada kecewa.

     

    Hal senada diutarakan oleh salah satu pasien yang enggan disebutkan namanya. Ia menuturkan bahwa pelayanan di apotek tersebut memang dikenal sangat lambat.

     

    *"Sudah biasa sih kalau di sini lama, tapi hari ini luar biasa lambatnya. Kalau sistem error kenapa tidak ada solusi? Kenapa dibiarkan macet begitu saja? Kita juga ada kesibukan lain, waktu terbuang sia-sia di sini," tuturnya.

     

    Sementara itu, pasien lain yang juga masih menunggu giliran menambahkan bahwa sikap petugas terkesan tidak peduli.

     

    *"Kalau ditanya jawabnya ketus, bilang 'sabar'. Ya kami sudah sabar, tapi sudah sore lho ini. Resep dapat siang, sekarang mau maghrib belum dapat obat juga. Pelayanan seperti ini sangat menyusahkan rakyat," ungkapnya.

     

    Sikap Arogan dan Tidak Manusiawi

    Ketika dikonfirmasi mengenai ketidakjelasan antrean tersebut, petugas justru bersikap defensif dan mengklaim bahwa sistem berjalan normal. Hal yang paling mengejutkan dan menyakitkan, salah satu petugas bahkan melontarkan kalimat yang sangat merendahkan:

     

    "Kalau tidak sabar, mending pulang saja."

     

    Fasilitas Pengaduan Dipertanyakan

    Keresahan masyarakat semakin memuncak ketika upaya untuk menyampaikan keluhan pun dipersulit. Ketika ditanya mengenai keberadaan kotak saran atau formulir pengaduan, seorang petugas justru menjawab dengan nada meremehkan:

     

    "Buat apa ya?"

     

    Hanya setelah ditanya kembali dengan tegas, barulah petugas tersebut mengarahkan lokasi. Ternyata, akses untuk pengaduan tersebut berada di area belakang dekat kantin khusus di dalam lingkungan rumah sakit, bukan di area umum atau ruang tunggu yang mudah diakses oleh pengunjung. Respons yang meremehkan disertai lokasi yang tersembunyi ini semakin memperkuat dugaan bahwa pihak rumah sakit seolah tidak ingin menerima masukan atau keluhan dari pasien.

     

    Hal-hal ini semakin memperkuat indikasi adanya diskriminasi pelayanan, di mana peserta BPJS Kesehatan seringkali diperlakukan tidak setara, dengan antrean yang jauh lebih lama dan pelayanan yang seolah dipersulit.

     

    Kontroversi Aturan Jadwal Obat

    Ditemukan juga aturan tertulis mengenai jadwal pengambilan obat yang ditinggal, yang hanya dilayani pada jam tertentu (08.00-10.00 WIB dan 16.00-17.00 WIB).

     

    Namun, penerapan aturan ini dinilai sangat tidak adil. Faktanya, pasien sudah hadir sejak pagi dan menunggu dengan sabar. Keterlambatan terjadi murni karena kesalahan manajemen rumah sakit baik dari segi sistem yang rusak maupun kinerja pelayanan yang lambat. Menyuruh pasien pulang dan kembali lagi keesokan harinya sama saja dengan mengalihkan beban kerugian waktu, tenaga, dan biaya kepada pihak yang sedang sakit.

     

    Tuntutan Perbaikan

    Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: Mengapa pelayanan obat bagi peserta BPJS selalu berbelit dan memakan waktu sangat lama?

     

    Sebagai institusi kesehatan milik negara (BUMN), RS IHC Pelabuhan Jakarta seharusnya memberikan pelayanan prima yang cepat, tepat, dan beretika. Kondisi yang terjadi saat ini justru mencederai hak dasar masyarakat dan mencoreng nama baik pelayanan publik.

     

    Kami mendesak pihak manajemen rumah sakit, BPJS Kesehatan, dan Kementerian BUMN untuk segera melakukan evaluasi mendalam, memperbaiki sistem, dan menindak tegas oknum petugas yang bersikap arogan serta meremehkan keluhan pasien.


    //rsh




    Komentar

    Tampilkan

    Terkini