Benuapost.id, CIREBON – Potret kemiskinan ekstrem mencuat dan mengguncang perhatian publik di Kabupaten Cirebon. Di tengah lingkungan warga yang sebagian besar memiliki rumah layak huni, berdiri sebuah rumah reyot nyaris roboh milik keluarga dhuafa Mulyadi dan Diana bersama kakaknya, Dastra, di Blok Karang Beringin RT 04/RW 01, Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.
Rumah yang hanya terbuat dari kayu lapuk dan bilik bambu itu tampak rapuh dimakan usia. Sebagian dinding sudah berlubang rusak parah, atap nyaris ambruk, dan kondisi bangunan dinilai membahayakan penghuni. Ironisnya, keluarga tersebut telah lama hidup dalam keterbatasan tanpa penanganan serius.
Kondisi memilukan itu akhirnya mengetuk kepedulian sosial sejumlah pihak. Pada Selasa, 26 Mei 2026, rombongan dari Pondok Pesantren Kebon Syarif Kampung Cibogo, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, yang dipimpin langsung KH. Ma’dun dan bersama Devi, pengelola Cafe Umah Rindjani yang beralamat di Jalan Rinjani I No. 68, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. turun langsung mendatangi rumah keluarga tersebut.
Rombongan membawa bantuan berupa sembako, perlengkapan dapur, pakaian layak pakai, hingga perlengkapan ibadah untuk keluarga Mulyadi Diana dan kakaknya Dastra.
Namun yang paling menyentuh perhatian warga bukan hanya bantuan materi semata. KH. Ma’dun bersama rombongan juga menggelar makan bersama dengan keluarga dhuafa tersebut dan warga sekitar menggunakan makanan yang dibawa langsung dari pondok pesantren. Suasana sederhana itu berubah menjadi momen penuh haru yang menggambarkan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah himpitan kemiskinan.
Penderitaan keluarga Mulyadi semakin berat karena selain hidup dalam kondisi ekonomi memprihatinkan, mereka juga harus merawat anak mereka, Aji (16), yang mengalami gangguan jiwa dan membutuhkan penanganan medis serius serta perhatian berkelanjutan dari pemerintah maupun instansi terkait.
Kedatangan rombongan Pondok Pesantren Kebon Syarif disambut warga sekitar serta Sekretaris Desa Beringin, Supriyadi, yang hadir mewakili Kuwu Desa Beringin, Agung Gunawan, karena berhalangan hadir.
Dalam keterangannya kepada awak media, KH. Ma’dun menegaskan bahwa persoalan kaum dhuafa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh umat.
“Masalah dhuafa adalah tanggung jawab kita bersama sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Kita juga harus mengingat pesan warisan Sunan Gunung Jati, ‘Ingsun Titip Masjid Lan Fakir Miskin’,” ujar KH. Ma’dun.
Ia menilai penanganan keluarga miskin seperti Mulyadi dan Diana tidak cukup hanya sebatas bantuan sandang, pangan, dan papan. Menurutnya, pemerintah juga harus hadir dalam memastikan akses kesehatan, BPJS, hingga penanganan medis bagi anak mereka yang mengalami gangguan jiwa.
KH. Ma’dun juga menyoroti bahwa kondisi keluarga tersebut menjadi contoh nyata masih adanya warga yang hidup di bawah garis kemiskinan dan membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah serta setempat, agar tidak terjadi pembiaran berkepanjangan.
Persoalan keluarga Mulyadi dan Diana akhirnya sampai ke telinga Bupati Cirebon, Imron Rosyadi. Setelah menerima laporan langsung dari KH. Ma’dun, respons cepat pun dikabarkan segera dilakukan.
Bupati Cirebon disebut telah meminta Pemerintah Desa Beringin Kecamatan Pangenan, segera menyiapkan proposal pengajuan anggaran untuk perbaikan rumah keluarga tersebut. Bahkan, Bupati juga dikabarkan akan mengundang keluarga Mulyadi dan Diana secara khusus ke Pendopo Bupati Cirebon sebagai bentuk perhatian dan kepedulian.
Kasus rumah nyaris roboh milik keluarga dhuafa ini pun viral di media sosial dan menuai sorotan publik. Banyak warga mempertanyakan mengapa kondisi rumah yang sangat memprihatinkan itu bisa berlangsung begitu lama tanpa penanganan serius, padahal dinilai sudah tidak layak ditempati.
Hingga berita ini diturunkan, Kuwu Desa Beringin, Agung Gunawan, belum memberikan pernyataan resmi terkait sorotan publik atas kondisi warganya yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di tengah lingkungan yang relatif lebih layak.
(Eka)








