"Pancasila di Era TikTok: Generasi Z dan Alpha, Antara Ancaman Radikalisme Digital dan Peluang Jadi 'Kompas Etika' Bangsa"
0 menit baca
Benuapost.id I Tanjungbalai
Di tengah gempuran konten viral dan radikalisme digital, nasib Pancasila dipertaruhkan di tangan Generasi Z dan Alpha. Mampukah mereka menjadi "kompas etika" bangsa, atau justru terjerumus dalam pusaran disinformasi dan intoleransi? Inilah pertarungan ideologi di era TikTok.
Bukan lagi sekadar hafalan atau seremoni, Pancasila harus menjadi "filter ideologis" bagi generasi muda. Literasi digital dan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa menjadi benteng pertahanan dari narasi yang memecah belah.
Keluarga memegang peranan krusial dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, toleransi, dan empati. Bukan dengan larangan atau doktrinasi, melainkan dengan keteladanan dan dialog yang terbuka.
Menurut Anggota Fraksi PKB DPRD kota Tanjungbalai Dedi Sanatra, ST., MT, Sabu (30/5) menyampaikan, "Generasi Z dan Alpha tidak bisa dijangkau dengan cara-cara lama. Mereka butuh ruang untuk berkreasi, dukungan untuk bergerak, dan kepercayaan untuk menjadi agen perubahan
"Bukan sekadar menjadi "tembok" penghalang informasi, tetapi menjadi sumber inspirasi dan bimbingan yang relevan dengan tantangan zaman. "Ucapnya.
Meski penuh potensi, generasi muda juga rentan terhadap pengaruh negatif: radikalisme digital, hoaks, ujaran kebencian, hingga intoleransi yang terselubung dalam konten-konten viral. Jika tidak dibekali dengan literasi digital dan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa, mereka bisa terjebak dalam narasi yang memecah belah.
Inilah pentingnya membangun “filter ideologis” berbasis Pancasila. Bukan untuk membatasi kreativitas mereka, tapi untuk menjadi fondasi moral dalam menghadapi dunia maya yang semakin kompleks. Pancasila harus menjadi kompas etika—menjadi alasan di balik setiap postingan, komentar, dan aksi yang mereka lakukan.
Lanjut Dedi Sanatra, "Di tengah pesimisme, ada secercah harapan. Banyak anak muda yang telah menjadi agen perubahan di komunitas, dunia maya, bahkan di panggung internasional. Mereka membuktikan bahwa generasi Z dan Alpha tidak hanya melek teknologi, tetapi juga peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan.
"Pancasila bukan warisan usang, melainkan "DNA" yang harus terus dihidupkan, diinterpretasi ulang, dan dijaga agar tetap relevan dengan zaman. Generasi Z dan Alpha adalah pewarisnya, dan di tangan merekalah masa depan bangsa ini dibentuk.
"Ini bukan hanya berita, tapi ajakan untuk beraksi. Mari kita dukung generasi muda untuk menjadi "kompas etika" bangsa. Bersama mereka, kita jaga Pancasila, kita bangun masa depan Indonesia. "Tuturnya.
Pewarta: (IG)



