-->

Puasa


 

Tex berjalan

Iklan 300x250

Bank Dunia Waspadai Tiga Negara Berisiko Krisis Ekonomi pada 2026

Benua Post
16/01/26, 18:50 WIB Last Updated 2026-01-16T11:50:23Z
masukkan script iklan disini
iklan anda disini


 

JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) menyoroti potensi krisis ekonomi yang membayangi tiga negara pada 2026 akibat pertumbuhan ekonomi yang terus berada di zona negatif. Ketiga negara tersebut adalah Bolivia, Jamaika, dan Iran, sebagaimana tercantum dalam laporan Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2026.


Dalam laporan tersebut, Bank Dunia mencatat bahwa ketiga negara telah memasuki fase resesi sejak 2025 dan diperkirakan masih menghadapi tekanan ekonomi hingga beberapa tahun ke depan.


Untuk Bolivia, kinerja ekonomi diproyeksikan terus melemah. Setelah hanya tumbuh tipis sebesar 0,7 persen pada 2024, perekonomian negara tersebut diperkirakan mengalami kontraksi 0,5 persen pada 2025. Tekanan berlanjut pada 2026 dengan pertumbuhan minus 1,1 persen, dan diperkirakan semakin dalam menjadi minus 1,5 persen pada 2027.


Sementara itu, Jamaika telah mencatatkan pertumbuhan negatif sejak 2024. Kontraksi ekonomi sebesar 0,5 persen pada tahun tersebut berlanjut pada 2025 dengan penurunan 1,3 persen. Kondisi diperkirakan memburuk pada 2026 dengan kontraksi mencapai 2,3 persen, sebelum akhirnya menunjukkan tanda pemulihan pada 2027 dengan pertumbuhan yang diproyeksikan mencapai 3,7 persen.


Bank Dunia menilai pemulihan Jamaika masih terhambat oleh berbagai persoalan struktural serta proses rekonstruksi besar-besaran pasca terjangan Badai Melissa yang membutuhkan percepatan dan pembiayaan signifikan.


Adapun Iran, Bank Dunia memperkirakan ekonomi negara tersebut juga masih berada dalam tekanan. Setelah mengalami kontraksi sebesar 1,1 persen pada 2025, ekonomi Iran diproyeksikan kembali menyusut 1,5 persen pada 2026. Pemulihan diperkirakan baru akan terjadi pada 2027 dengan pertumbuhan terbatas di kisaran 0,6 persen.


Menurut Bank Dunia, pelemahan ekonomi Iran dipengaruhi oleh penurunan produksi minyak yang dipicu oleh kembali diberlakukannya sanksi internasional serta semakin ketatnya pembatasan perdagangan global terhadap negara tersebut.


//rd




Komentar

Tampilkan

Terkini