Benuapost.id — Perdebatan tentang hakikat kesadaran manusia kembali mencuat setelah teori Orch-OR (Orchestrated Objective Reduction) kembali ramai dibahas. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran manusia berkaitan dengan proses kuantum di dalam otak, sehingga memunculkan spekulasi: apakah kesadaran benar-benar hilang saat manusia meninggal?
Teori Orch-OR dikembangkan oleh fisikawan ternama Roger Penrose dan ahli anestesi Stuart Hameroff. Mereka mengusulkan bahwa kesadaran tersimpan dalam struktur mikroskopis di sel otak yang disebut mikrotubulus (microtubules).
Menurut hipotesis tersebut, proses kuantum di dalam mikrotubulus berperan dalam membentuk pengalaman sadar manusia. Dalam interpretasi populer, ada anggapan bahwa ketika jantung berhenti berdetak, informasi kuantum ini tidak sepenuhnya musnah, melainkan “terlepas” dari sistem saraf.
Namun, penting dicatat bahwa hingga saat ini teori Orch-OR masih bersifat kontroversial dan belum menjadi konsensus ilmiah. Banyak ilmuwan saraf dan fisikawan menilai bukti eksperimental yang mendukung keterlibatan efek kuantum dalam kesadaran manusia masih terbatas.
Klaim yang menyebut kesadaran tetap eksis sebagai “energi murni di dimensi lebih tinggi” juga belum didukung bukti ilmiah yang kuat dalam literatur arus utama. Penelitian tentang kesadaran sendiri masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam sains modern.
Secara sederhana, Orch-OR adalah upaya untuk menjelaskan kesadaran melalui mekanika kuantum di otak. Namun, apakah kesadaran bertahan setelah kematian masih menjadi pertanyaan terbuka yang belum terjawab secara ilmiah.
Kesimpulan:
Teori Orch-OR menawarkan perspektif menarik tentang hubungan otak dan kesadaran, tetapi klaim bahwa “jiwa adalah energi abadi” belum terbukti secara sains. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami secara pasti bagaimana kesadaran manusia bekerja.
//***



